Langkahmu setelah masa putih abu-abu = Sukses




Kali ini kami akan mempersembahkan sebuah tulisan yang ditujukan teman-teman kelas XII, yang kita tentu sama-sama bingung akan melangkah kemana. Nah, kebetulan STTQ Gresik mengadakan lomba Jawara Blog dengan tema “Langkahmu setelah masa putih abu-abu”. Untuk itu silahkah menyimak tulisan saya ini dan semoga bermanfaat.

Langkahmu setelah masa putih abu-abu = Sukses
Masa SMA atau yang lebih popular disebut masa putih abu-abu merupakan masa-masa kenangan yang paling indah dalam perjalanan hidup seorang manusia. Namun yang lebih menegangkan lagi adalah masa-masa setelahnya. Setelah itu hidup benar-benar akan diuji, hidup yang sesungguhnya akan segera dimulai.

Pilihan setelah masa putih abu-abu biasanya menjado barometer kehidupan kita, meski tidak bisa dikatakan mutlak demikian. Pilihan-pilihan itu harus ditentukan dengan amat matang dan penuh pertimbangan, karena itu yang akan menentukan langkah hidup kita selanjutnya. Ada yang menyebut setelah pilihan 3K setelah lulus sekolah menengah atas. Ada Kuliah, Kerja atau Kawin. Sebetulnya tidak harus 3 itu, selain kuliah, kerja atau kawin, teman-teman bisa saja kursus, untuk mendapatkan keahlian dalam suatu bidang. Seperti kursus komputer atau bahasa inggris, atau mungkin mengikuti intensif bimbingan belajar agar bisa menembus berbagai seleksi masuk perguruan tinggi negeri tahun berikutnya. Tapi yang jelas jangan Kesana-kemari, karena akan membuat teman-teman semua semakin enggak jelas dan hidup terasa tanpa tujuan dan tak jarang merugikan orang lain.

Oke, pada umumnya teman-teman kelas XII SMA akan mengerucutkan jawaban pada 3 pilihan, yaitu kuliah, kerja atau menikah. Ketiganya merupakan sebuah pilihan yang memungkinkan untuk dipilih oleh semua orang. Ketiganya masing-masing mempunyai resiko dan memiliki konsekuensi. Resiko dengan bidang dan tingkatannya masing-masing, yang berbeda satu sama lainnya. Resiko-resiko tersebut bukan berarti sebuah marabahaya yang ditakuti,  atau momok yang dihindari. Namun resiko-resiko tersebut harus dilalui, harus dijalani dengan elegan dan indah.

Kuliah misalnya, melanjutkan kuliah menjadi jawaban yang populernya juara satu dikalangan teman-teman kelas XII. Banyak yang sadar bahwa menaiki satu level strata pendidikan dapat membuat mereka berkembang, baik dari segi pemikiran maupun kualitas hidup. Tentu bukan perkara mudah mewujudkan cita-cita tersebut. Ada banyak hal yang harus disiapkan. Namun yang terpenting, siswa mesti segera menentukan jurusan yang mereka pilih, sekaligus universitas yang akan dituju.  Untuk menempuh proses ini juga tak semudah membalik telapak tangan. Ada banyak pertimbangan yang harus dipikirkan. Persiapan dan perhitungan yang matang akan membuat kita lebih siap masuk perguruan tinggi favorit kita. Setelah itu juga harus terukur, baik secara kemampuan intelektual, kemampuan fisik, kemampuan finansial atau faktor lainnya yang ada sangkut pautnya dengan perkuliahan.

Rasanya tidak mungkin siswa dengan disiplin ilmu social tiba-tiba ingin masuk jurusan kedokteran atau teknik elektro. Atau siswa yang biasa bergulat dengan ilmu pasti (eksakta) tiba-tiba mengambil jurusan akutansi. Hal tersebut sebenarnya sah-sah saja, namun kurang terukur dengan disiplin ilmu yang kita geluti. Jika sudah memnilih kuliah kita mesti banyak menentukan dan mempertimbangkan berbagai hal, seperti dimana kita akan kuliah? Letaknya atau lingkungan sekitarnya? Program apa yang akan kita ambil? Apakah S1 atau D3? Berapa biaya yang dibutuhkan? Prospek kerja 3 sampai empat tahun kedepan? Intinya kita harus memikirkan secara keseluruhan.

Yang kedua, kerja. Pilihan yang kedua ini juga membawa resiko. Pada intinya pilihan ini selangkah lebih maju dari pilihan pertama. Karena setelah kuliah orang tentu akan mulai berkerja. Jika memilih berkerja menjadi langkah selanjutnya maka kata kuncinya adalah persiapan. Persiapan baik hard skill maupun soft skill. Persiapan secara kompetensi dan keahlian, karena tentunya perusahaan akan mencari orang-orang pilihan yang cerdas dan punya keahlian yang mumpuni. Selain itu juga harus memiliki soft skill, seperi tanggung jawab, rama dan sopan, dapat berkomunikasi dengan baik, loyal dan supel, punya etos kerja yang tinggi dan sebagainya. Sehingga, kalau ini pilihan teman-teman, jangan sia-siakan masa SMA, karena inilah waktunya mempersiapkan diri menjadi tenaga kerja yang profesional dan berkompeten dibidangnya.

Nah, pilihan yang ketiga adalah menikah. Jika teman-teman memilih yang ketika ini, juga semakin banyak resiko yang dihadapi. Teman-teman harus siap secara lahir batin, siap untuk menafkahi bagi yang laki-laki dan dinafkahi bagi yang perempuan. Jelas jika sudah menika msa kebebasa kita akan hilang, karena kita sudah punya tanggung jawab untuk mengurus keluarga. Dan yang jelas sudah harus siap mempunyai anak.

Dari ketiga uraian panjang yang saya sampaikan di atas tadi sebetulnya akan mengerucut pada atu jawaban yang sangat singkat dan indah. Langkahku setelah masa putih abu-abu adalah SUKSES!. Ukuran sukses itu relaitif. Mungkin yang gemuk lalu bisa kurus itu sukses, yang kurus ingin gemuk dan berhasil itu juga sukses. Tapi yang jelas sukses itu membahagiakan. Dan bahagia itu datangnya pada kepuasan diri. Pendidikan tidak menjamin kesuksesan, namun pendidikan akan mempermudah menggapai kesuksesan. Pekerjaan pun juga tak menjamin, namun bekerja dengan tulus dan jujur akan memudahkan rezeki datang. Jadi apapun pilihan langkah teman-teman setelah masa putih abu-abu ini, katakan dengan lantang, langkah setelah masa putih abu-abu adalah Sukses! Lalu biarkan kita melangkah bersama ridla Allah.

0 comments:

Idealisme, Optimisme dan Realitas

Oleh: Prayogo Asmoro
Masih ingatkah temen-temen semua masa anak-anak kita, ketika orang tua, paman, bibi, eyang atau siapapun yang lebih dewasa dari kita mengajukan pertanyaan sederhana kepada kita “Kalo besar nanti mau jadi apa!?” mungkin beberapa dari kita akan menjawab dengan polos ada yang ingin jadi dokter, polisi, astronot, guru, insinyur, tentara, koki, atau mungkin juga artis. Jawaban yang terkesan sederhana, namun sebetulnya menunjukkan kejujuran. katanya anak kecil itu paling jujur dan sebuah idealisme yang paling lugu dan lucu. Nah, seiring perjalanan waktu, apakah kini idealisme masa anak-anak itu masih kita pertahankan hingga kini?

Selepas masa putih abu-abu ini, kita akan merasakan bahwa inilah waktunya dan jalannya untuk mencapai dan mefokuskan diri pada pencapaian masa depan kita. Banyak yang sudah merancang dan merencanakan berbagai hal. Lalu apakah rencana dan rancangan kita itu sesuai dengan idealisme masa TK kita? atau masa SD kita? atau masa SMP kita, lalu bagaima dengan masa SMA ini? Apakah yang dulu ingin menjadi dokter, seusai SMA ini akan melanjutkan studinya di Fakultas Kedokteran? Apakah yang dulu bercita-cita menjadi polisi, akan langsung memutuskan untuk mendaftarkan diri di Akademi Kepolisian? Yang dulunya punya bayangan ingin menjadi insinyur, apakah serta merta menjatuhkan pilihan pada fakultas teknik? Tentu tidak semudah dan sesederhana itu.

Dewasa ini kita tentu punya banyak refrensi dan wawasan juga masukan untuk gambaran masa depan kita. Jadi sangat mungkin yang dulunya ingin jadi begini sekarang ingin jadi begitu. Apalagi kini prosedur pendaftaran ke PTN atau PTS memungkinkan kita bisa bebas memilih program studi yang ingin kita ambil, baik yang sesuai disiplin ilmu kita atau bukan. Ratusan prodi di puluhan perguruan tinggi negeri dan ribuan perguruan tinggi swasta jelas akan menambah kegalauan kita.  Banyak yang jadi pertimbangan kita dalam memilih prodi yang kita inginkan. Tentu dengan tujuan kita dapat diterima pada perguruan tinggi favorit kita dengan meminimalisir resiko terburuk.

Kuota penerimaan mahasiswa, jumlah peminat, passing grade perguruan tinggi dan jurusan, mata kuliah di jurusan tersebut, biaya pendidikan juga prospek kerja kedepannya menjadi bahan perbincangan yang amat biasa dikalangan pelajar di masa akhir putih abu-abu. Karena sebenarnya disinilah kita memutakhirkan pilihan kita untuk masa depan kita, bukan saat masa anak-anak yang hanya tahu dari apa yang mereka lihat saja, bukan pula saat sekolah dasar yang menentukan cita-cita hanya dari ‘kepingin’. Bukan pula saat SMP. Tentu tidak ada larangan orang berangan-angan, kapan saja waktunya boleh, namun saat ini lah kita akan menunjukkan sebuah idealisme sejati bukan idealisme buta dan ‘pokoknya’. Karena kita tentu sudah melihat realitas yang ada, dinamika masyarakat, kebutuhan masyarakat dan tuntutan masa depan. Kita tidak bisa menafikkan diri bahwa kita harus jadi orang kaya, banyak uang, hidup layak bersama keluarga dan punya masa tua bahagia bersama anak-anak dan cucu-cucu dan tidak perlu lagi berkerja ngoyo memenuhi biaya hidup.

Atau ketika seiring perjalan waktu itu ada batu ganjalan yang tidak bisa kita hindari. Misalnya, kita ingin masuk ke Fakultas Kedokteran, namun nilai sains kita pas-pasan dan banyak orang yang punya nilai lebih di pilihan yang sama. Ingin masuk fakultas teknik tapi fisika dan matematika kita lemah, padahal ada puluhan (bahkan ratusan) ribu pelajar di Indonesia yang berebut kursi di fakultas teknik. Sekali lagi kita harus pinter dan peka melihat realitas yang ada. Jangan sampai kita gagal masuk hanya karena salah pilih.

Tapi dari semua itu ada hal yang tak boleh hilang, yaitu optimisme. Apapun keadaannya kita tak boleh kehilangan satu suplemen semangat yang namanya optimisme. Jika sudah kehilangan unsur ini, semuanya akan terkesan menakutkan dan mengkhawatirkan. Optimisme jadi penyeimbang antara idealism hidup dan realitas yang ada. Seorang guru kami mengatakan bahwa pilihan satu didasarkan pada idelismemu, pilihan kedua harus relalistis. Maka boleh saya menambahkan optimisme ada di antara keduanya. Idealism nomor satu, optimism sudah pasti, tapi realistis juga penting.

0 comments: